Berita

Sulap Pekarangan Jadi Ladang Cuan, 11 Petani Jombang Rintis Ekosistem Markisa Berbasis Koperasi

Admin
23 September 2026
16 views
2 min read
Sulap Pekarangan Jadi Ladang Cuan, 11 Petani Jombang Rintis Ekosistem Markisa Berbasis Koperasi
JOMBANG — Sebanyak 11 petani di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, mulai membudidayakan markisa di lahan pekarangan dan kebun kosong milik mereka. Program ini digagas bersama Koperasi Produsen Industri Kreatif Modern (KOPIKM) sebagai bagian dari program hilirisasi pertanian tahun 2025–2026.

Berdasarkan dokumen program, ekosistem usaha markisa ini dibangun dari hulu ke hilir agar petani tidak hanya menjual buah segar, tetapi juga menikmati nilai tambah melalui koperasi. Petani anggota mendapat dukungan berupa bibit unggul, pelatihan Good Agricultural Practices (GAP), pendampingan pemupukan dan pengendalian hama, hingga skema tanam bergilir. Koperasi sendiri berperan sebagai agregator yang menghimpun hasil panen, menetapkan standar mutu dan harga dasar, serta menyerap hasil panen agar petani lebih aman dari fluktuasi pasar.

Hasil panen markisa nantinya diolah menjadi beragam produk bernilai tambah, mulai dari sirup, jus kemasan, hingga konsentrat atau pulp beku, yang disebut dapat meningkatkan nilai jual dua hingga lima kali lipat dibanding buah segar sekaligus menyerap buah afkir agar tidak terbuang.

Dari sisi permodalan, total kebutuhan modal awal program ini diproyeksikan mencapai sekitar Rp163,5 juta, mencakup kebutuhan 11 petani anggota sebesar Rp125,8 juta dan sarana sentra produksi seperti timbangan digital, freezer, dan sealer cup senilai Rp37,7 juta. Dokumen program juga memproyeksikan hasil panen petani meningkat dari sekitar Rp42 juta pada 2026 menjadi Rp180 juta pada 2028, seiring bertambahnya jumlah pohon produktif, dengan target peningkatan pendapatan petani berkisar 20–40 persen.

Selain aspek produksi, kebun markisa ini juga direncanakan dikembangkan menjadi agrowisata keluarga bernama Markisa Family Garden, lengkap dengan kegiatan edukasi budi daya, petik buah, spot foto, kafe markisa, hingga festival panen raya.

Program ini juga didukung sejumlah kerja sama pengabdian masyarakat, di antaranya dengan Universitas Terbuka dalam peningkatan sumber daya manusia, serta pelatihan pengolahan limbah pertanian dan penguatan kelembagaan koperasi bersama IPB, Bank Indonesia, dan pesantren setempat. Sebagai wadah silaturahmi dan evaluasi rutin, petani dan pengurus koperasi juga menggelar kegiatan bulanan bernama "Ngaji Tani" setiap Sabtu Pahing.
Bagikan artikel ini: